“Masissoyo!” ujar Kato minum secangkir coklat hangat
“Ini kan minuman kesukaan mu! Masak kamu lupa?”
“Benarkah? Memang terkadang aku sangat pikun! Tapi tenanglah, aku dirawat di sini bukan karena penyakit serius. Hanya saja kepalaku sakit kalau ingin mengingat hal itu.”
Apa selama ini ia tidak tahu kalau ia sebenarnya penderita Alzheimer? Batin Donghae.
“Oppa sakit apa sih kok sampai di rawat di sini?”
“Aku hanya demam, Kato! Mungkin karena terlalu banyak show akhir-akhir ini.” ucapnya bohong.
“Oppa, maukah kau menunggu sebentar? Sebentar saja…” lalu Kato keluar dari kamar Donghae dan berlari menuju kamarnya. Ia mengambil buku birunya dan kamera polaroidnya setelah itu berlari kembali ke kamar Donghae.
“Oppa, aku kembali!!” sapanya. Tapi kamar Donghae begitu sepi dan hening.
“Oppa…” Panggilnya lagi. Kato pun masuk lebih jauh. Kini ia benar-benar bingung. Di mana Donghae? Sesuatu jatuh dari srcap booknya. Kato pun membungkuk untuk mengambilnya.
“Aigo... Oppa!” ia melihat Donghae tergeletak di samping ranjang.
Donghae tidak merespon panggilan Kato. Kato pun terus menepuk pipi Donghae. “Oppa sadarlah!!”
Ia mendekatkan telinganya ke dada Donghae. Detak jantungnya pelan sekali. Kato pun panik.
“A.. kata ajumma jika ada orang pingsan seperti ini harus diberi nafas buatan! Oppa bertahanlah!”
Kato pun menaruh srcap book dan kameranya di ranjang. Lalu ia mendongakkan kepala Donghae dan memencet hidungnya. Kato menarik napas sekuat tenaga. Bibirnya mulai menuju ke mulut Donghae. Semakin dekat... dan semakin dekat.
“Waaaaa.....” teriak Donghae. “Kau ahli juga dalam pertolongan pertama!”
“Mwo?”
“Hehehe... aku hanya bercanda tadi! Tapi sebenarnya kalau aku belum bangun duluan, kamu dapet ciuman kan!”
“Gak aku sangka Oppa seperti ini. Kau pikir aku ini apa? Menyesal aku suka sama orang seperti kamu!” Kato pun meninggalkan kamar Donghae dengan wajahnya yang merah padam.
“Aniaa... Bukan begitu maksudku... Kato, tunggu!” tapi Kato sudah telanjur berlari lebih jauh dari Donghae. Donghae pun tetap mengejarnya menysuri koridor Rumah Sakit.
Percuma saja! Kato sudah pergi sangat jauh. Donghae pun memutuskan kembali saja ke kamarnya, sebelum ia pingsan di koridor yang sangat sepi. Jantungnya mulai berdebar sangat kencang. Badannya mulai lemas, tapi tetap saja ia paksa untuk berjalan. Donghae pun memasuki kamarnya.
“Aish! Apa lagi ini...” Ternyata scrap book Kato tertinggal. Donghae yang penasaran dengan isi scrap book itu pun mulai membuka halaman pertama.
Kato’s Remind Book
Hari ini 15 Oktober 2009. Saengil Chukae Prince Donghae! Tapi aku sangat sedih, hari ini aku baru saja pulang dari Rumah Sakit. Selama ini aku menyadari kalau aku pelupa. Tapi ternyata semua itu tanda-tanda Alzhaimer kata Dokter. Aku gak mau lupa tentang kehidupanku. Aku gak mau lupa kalau aku suka sama Super Junior, terlebih Donghae Oppa! Dan aku nggak mau suatu saat aku bertanya Why I Love You?
“Kato, dia pasti sangat kecewa. Aigoo... Ottokajo?”
Tok.. tok.. tok... seseorang mengetuk pintu kamar Donghae. Ajumma Lee.
“Donghae, sekarang waktunya kamu minum obat.”
“Ne,”
“Hei, itu bukannya milik Kato? Kenapa ada di kamu?”
“A... ne, ini memang punya Kato. Tadi dia meninggalkannya di sini. Baru saja aku mau mengembalikannya.”
“Sekarang di mana anaknya?”
“Kato? Jwesongheyo jonen mollayo... Tapi kalau boleh, aku ingin tau di mana kamarnya” jawab Donghae.
“Ya, tapi minum dulu obatmu!”
Donghae pun berjalan di belakang Ajumma Lee. Mereka berjalan melalui koridor yang berwarna krem. Pintu kamar rawat berjejer di kiri dan kanan. Beberapa orang melakukan aktivitasnya, ada yang tertidur, ada pula yang mengobrol.
“Nah ini kamarnya?” Akhirnya mereka sampai di kamar.
“Jauh sekali kamarnya. Kenapa dia tidak di taruh di kamar yang dekat ruang perawat saja?”
“Dia sendiri yang minta. Kamar nomor tiga belas.” Ajumma pun membuka pintu kamarnya.
“Woo...” desah Donghae. “Banyak sekali barang barangnya,”
“Kato...” Panggil Ajumma. “Kelihatannya dia ada di bagian atas loteng Rumah Sakit. Dia tidak ada di sini.”
“Ajumma, bolehkah aku berada di sini sebentar saja?”
“Iya, tapi sebaiknya kau temukan dia sebelum ia lupa lagi.”
“Ajumma, lukisan Kato bagus sekali?” ujar Donghae sambil menunjuk ke sebuah sketsa wajahnya yang dibingkai.
“Kau tau? Dia pernah kabur dari sini hanya untuk melihat launching albummu yang Bonamana! Karena dia gak punya kamera buat foto kamu, dia ingin menjual semua barang-barangnya ini! Untung saja ia menemukan sesuatu yang bisa ditukar dengan kamera polaroid.”
“Ajumma, ke mana jalan menuju loteng Rumah Sakit?”
“Jalan saja ke atas melalui pintu darurat.”
Donghae pun mencari pintu darurat. Ia pun menaiki satu per satu anak tangga. Nafasnya mulai habis ketika sudah sampai di tengah perjalanan. Jantungnya berdenyut sangat lambat, tidak bisa mengimbangi gerak cepatnya. Tapi ia harus menemui Kato secepatnya dan minta maaf.
“Kato,” Donghae pun akhirnya sampai di bagian paling atas Rumah Sakit itu. “Kato, Mianhamnida.”
Kato masih diam.
“Kato-ssi...” Panggil Donghae sambil terengah-engah.
Akihirnya Kato berbalik dari tempatnya berdiri, “Belum puas mencela aku? Gwencanda... Neol saranghae, yongwonhi. Meski kenyataannya, kamu sangat-sangat menyakiti hatiku!”
“Aku hanya bercanda Kato...”
“Bercanda? Oppa tidak mengerti, kalau seandainya hal itu adalah sebuah kebenaran. Dan aku hanya menanggapinya sebagai candaan. Aku lebih baik kehilangan ingatanku selamanya daripada suatu hal buruk menimpa, Oppa.”
“Kato, aku benar-benar menyesal. Aku nggak pernah tau kalau kamu begitu mencintai aku.”
“Oppa, mungkin bagimu aku cuma fans. Seorang Ever Lasting Friend, yang kamu anggap sebagai orang yang berharga untuk popularitas kalian dan gak ada tempat khusus buat aku selain tempat sebagai fans di hatimu.”
“Kato-ah!! Kamu gak mengerti... apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang aku rasakan! Setiap dekat kamu, setiap melihat mata kamu. Aku harap kamu mengerti aku kalau kamu memang mencintaiku.”
Kato pun berbalik lagi. Ia duduk dan memandang langit, berusaha menghapus sakit hatinya kepada Donghae. Selama ini ia habis-habisan berebut tiket konser demi bermimpi memegang tangan Donghae. Pernah suatu ketika mobil di rumahnya sedang dipakai dan angkutan umum begitu sesak, ia rela berjalan dari rumahnya ke tempat show Super Junior. Dan ketika sampai di sana tiketnya tertinggal dan ia harus kembali ke rumah untuk mengambil tiket. Pernah juga ia dipermalukan di depan umum gara-gara ketika ia berbelanja dan bertemu salah satu member Super Junior, dan manajer yang bersamanya tidak mengijinkan Kato berjabat tangan.
Sorry Sorry Sorry Sorry
Naega naega naega meonjeo
Nege nege nege ppajyeo
Ppajyeo ppajyeo beoryeo baby
Shawty Shawty Shawty Shawty
Nuni busyeo busyeo busyeo
Sumi makhyeo makhyeo makhyeo
Naega michyeo michyeo baby
Naega naega naega meonjeo
Nege nege nege ppajyeo
Ppajyeo ppajyeo beoryeo baby
Shawty Shawty Shawty Shawty
Nuni busyeo busyeo busyeo
Sumi makhyeo makhyeo makhyeo
Naega michyeo michyeo baby
“Bagaimana? Kamu sudah memaafkan aku?” ucap Donghae setelah menghibur Kato.
“Miane Oppa! Mungkin aku terlalu berlebihan tadi.”
“Ya, aku juga sudah keterlaluan tadi.”
“Oppa, apa aku boleh tau hal apa yang kamu pikirkan setiap melihat aku? Ya, seperti katamu tadi. Bukan bercanda kan?”
“Benar, kamu mau tau? Tapi janji jangan marah ya.”
“Ne!”
“Dulu waktu SMA, ada seorang adik kelasku mukanya itu mirip kamu. Dia itu lucu, mirip kaya kamu. Aku merasa kalau aku jatuh cinta padanya. Tapi aku dengar, ia pindah ke luar negeri. Ah, hal itu membuatku sangat sedih. Tidak ada gadis seperti dia di mataku. Setelah aku melihat kamu. Aku seperti melihat dia versi kamu.”
“Yah, sekarang aku sedih sekali karena aku mengingatkan masa lalumu.”
“Tapi aku melihat sesuatu lain dari kamu! Kamu itu mencintai aku, tidak seperti Jessica!”
“Oppa belum mengenal aku! Sehari saja belum genap. Lagi pula kalau pun Oppa menyukaiku pasti karena gadis itu.”
“Kamu salah, ini adalah cinta pada pandangan pertama. Sekarang begini saja. Lihat langit yang terbentang di depan kamu. Kosong kan gak ada bintangnya? Apakah itu indah?”
“Ah, benar sekali. Kenapa malam ini bintang tidak ada.”
“Tunggu, coba berbalik dari tempat kamu.”
“Ah sama saja.”
“Lihat di sana ada satu bintang yang tetap bersinar. Begitu juga aku! Kalau aku tetap terpaku sama Jessica aku tidak akan pernah bertemu dengan orang yang benar-benar mencintai aku. Karena hatiku masih melihat ke arah Jessica, bukan yang lain.”
“Itu kan sekarang, ketika Oppa sedang tidak bersama dia. Kalau sekarang Jessica ada di sini, apa Oppa masih mengganggap aku?”
“Kato, sepertinya mau hujan. Ayo kita ke dalam saja ya.”
***
Hari pertama di Rumah Sakit terasa asing sekali. Untung Ganosanya sangat baik, namanya Lee, aku memanggilnya Ajumma Lee. Dia kepala perawat di sini. Dan dia juga yang mengijinkan aku menaruh barang-barangku di kamar ini. Umma dan Appa mengantarkan ini semua. Mereka seperti membuangku di sini. Tapi tak apa, Umma membelikanku boneka ikan yang besar sekali dan mug yang ada chiby nya Donghae. Appa juga membelikanku semua pernak-pernik berbau Super Junior. Seperti saat ini aku memakai kaos kaki yang gambarnnya chiby Donghae. Ada juga alat tulis yang ada chiby mereka. Tapi satu yang tak kusangka, mereka memberi kan aku kamera sama seperti yang dipakai Yesung.
Donghae membaca halaman selanjutnya dari scrap book Kato. Tadi dia hanya mengembalikan kamera polaroidnya saja.
“Tapi kata Ajumma Lee dia gak punya kamera. Jangan-jangan kamera sebagus itu ditukar dengan kamera polaroid.” Gumam Donghae sambil membolak-balik scrap book Kato.
“Aigoo!! Bahkan dia punya fotoku di kamar ganti.” Gumamnya lagi.
Tak lama, ponselnya berdering. Unknown number.
“Siapa ini?”
Donghae, aku dengar kamu sakit. Get well soon ya!
Jessica,
“Dia?”
***
“Ajumma, Kato di mana?” Tanya Donghae.
“Sepertinya dia berjalan-jalan ke taman.” Jawab Ajumma Lee. “Tumben kamu menanyakannya.”
“Aku sudah terikat janji dengannya.”
Donghae pun kembali ke kamar, ia mermaksud mengembalikan scrap book Kato yang seminggu ini ia bawa.
Donghae pun menuju ke taman dekat Rumah Sakit. Terlalu banyak orang di sana, ia kesulitan mencari Kato. Donghae pun mencari di bangku-bangku taman, barangkali Kato berada di sana. Tetap saja ia tak menemukan. Karena kecapekan ia memutuskan duduk di sebuah bangku yang di teduhi sebuah pohon. Matanya menangkap sesuatu yang ia kenal.
“Kato menjatuhkannya lagi!” gumamnya.
Ternyata foto itu terjatuh di sebuah jalan rahasia. Sebuah jalan setapak yang ditutupi semak. Jadi tak banyak orang tau kalau itu adalah sebuah jalan.
“Tak salah lagi.”
Donghae pun masuk ke jalan itu. Sedikit susah memang memasuki jalan sesempit itu dengan badan yang besar.
“Aigoo...” Seru Donghae.
Ia melihat pohon besar, di sana ada posternya, lemparan foto polaroid bergantungan, sepatu, kaus kaki, dan barang-barang lainnya yang berserakan di bawah pohon itu dan bergantugan di dahannya. Tak jauh dari pohon itu, Kato duduk di suatu sisi, sepertinya ia mencari sesuatu.
“Kato, Kato-ssi,” panggil Donghae. Tapi Kato tidak menoleh.
Donghae pun menghampirinya.
“Kato, apa kau baik-baik saja?”
Akhirnya Kato menoleh, “Siapa kamu?”
“Kato, aku Donghae. Orang yang paling kamu cintai.”
“Cinta? Apa itu? Apa sebelumnya aku mengenalmu?”
“Iya, kamu sangat mengenalku. Kamu sangat sangat mengenal aku!” Donghae meyakinkan. Kato hanya diam saja.
“Kato, apa yang kamu lakukan?”
“Aku mencari semanggi berdaun empat. Aku ingin sekali meminta supaya aku bisa ingat kepada semua orang yang aku kenal. Aku sedah capek seperti ini terus. Aku selalu takut kehilangan arah pulang, aku selalu takut sendirian!! Aku takut kalau suatu saat nanti aku lupa dengan diriku sendiri.”
“Kato, kamu nggak perlu mencari semanggi berdaun empat. Aku akan selalu jadi petunjuk jalanmu. Aku akan menemani kamu saat kamu sendirian. A...”
“Bagaimana aku bisa percaya denganmu kalau kamu siapa saja aku nggak mengenalinya?”
Donghae pun menghentikan pembicaraan Kato, ia mencium bibirnya. Kato pun kaget, karena saat ini ia sedang tidak mengenali Donghae.
“Bagaimana supaya kamu bisa percaya denganku? Ottoke?” tanya Donghae.
“Kalau kamu menemukan semanggi berdaun empat itu, aku percaya denganmu.”
“Ne, algetsemnida!”
Matahari sangat terik siang itu. Mereka tak putus asa untuk mencari semanggi berdaun empat.
“Aigoo, aku menemukannya!” gumam Donghae, “Hei, aku mohon sekali supaya aku bisa bersamanya, selamanya. Now I can’t stop thinking ‘bout you girl.”
bersambung...
bersambung...


0 komentar:
Posting Komentar