Minggu, 27 Februari 2011

[Fanfic] Why I Love You part. 1


Author                    : Megi Kato
Genre                     : Romantic
Title                         : Why I Love You
Main character  : Super Junior Donghae and Kato

 “Donghae, kenapa lagi kamu?” tanya Leeteuk.
Sebelum menjawab, Donghae sudah keburu pingsan. Hal ini benar-benar gawat karena sebentar lagi mereka akan live show.
“Siwon, Hyuk Jae, cepat bantu aku. Badannya berat sekali!!”
Siwon dan Eunhyuk pun datang menolong. Tak lama Manajer mereka pun datang untuk memastikan kalau mereka sudah siap sebelum show dimulai. Wajahnya yang tadi berbinar, sekarang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi masam.
Musen illissoyo?” ujar Manajer.
Siwon mencoba untuk menenangkan, “Mungkin Donghae Hyung kumat lagi! Karena kata Leeteuk Hyung, tadi dia memegang dadanya lagi lalu pingsan.”
“Mungkin dia memang butuh perawatan!” cetus Eunhyuk.
Seketika semua mata memandang Eun hyuk. Eun Hyuk yang merasakan hal itu, sontak saya jadi merasa aneh.
“Apa ada yang salah?” tanya Eunhyuk.
Leeteuk menghampirinya, “Mungkin kali ini kamu benar.”
Donghae memang memiliki kelainan pada jantungnya. Setiap kali kecapekan, hal ini yang terjadi padanya dan membuat para Hyung dan member yang lain cemas. Beberapa minggu lalu, Donghae check up bersama Leeteuk. Dokter pun menyatakan kalau Donghae harus dirawat di Rumah Sakit karena kondisinya melemah. “Ahjussi, aku akan baik-baik saja” selalu itu yang diucapkannya kepada Dokter yang sudah dua puluh lima tahun merawatnya. Memang lima tahun lalu donghae sudah menjalani cangkok jantung, tapi hal itu tidak menjamin kerja jantungnya bisa seperti orang normal lainnya.
Ambulance sudah tiba dan Donghae segera dibawa ke Rumah Sakit. Show malam ini, dipastikan tanpa Donghae. Hanya Manajer yang menemaninya karena member yang lain harus show malam ini.
“Annyeong? Suki… Ayo kita main!” seseorang mengetuk pintu kamar Donghae.
“Siapa kamu?” Tanya Donghae.
Bukannya menjawab, cewek itu malah masuk ke dalam. Ia terus mencari orang yang bernama Sunny.
“Oppa, kamu lihat Suki nggak? Hari ini sangat cerah, aku ingin mengajakanya bermain.”
Donghae pun gak tau menau dan sekarang ia bingung. Lalu ia memutuskan memanggil ganosa saja dan ia memencet bel, tak lama kemudian seorang ganosa pun datang.
“Apa ada masalah denganmu?” Sapa si Perawat.
Ajumma tolong bantu wanita yang ada di kamar saya, supaya dia bisa meninggalkan tempat kamar saya!” pintanya agak kesal.
Ganosa itu pun sedikit mengintip ke dalam kamar Donghae, “Kato? Pasti dia mencari Suki. Kato!”
Kato pun menoleh. “Ajumma Lee, Suki kok gak ada ya? Apa dia di pindah?”
“Kato,” si Ganosa memasang wajah prihatin. “Suki kan sudah pulang kemarin. Kalau dia ada waktu pasti mengunjungimu.”
“Oh iya, ya! Aku lupa kalau dia sudah pergi. Ayo Ajumma, antar aku ke kamar.”
Kato seorang gadis berkaca mata dengan sebuah buku berwarna biru yang ia bawa. Sebenarnya ia memiliki mata yang indah jika tanpa kaca mata. Ia mengenakan piama berbentuk kelinci merah muda. Donghae pun merasa aneh dengan ‘pemandangan’ yang barusan ia lihat. Tak lama, ponselnya berdering.
“Halo, Hyung! Bagaimana konser semalam? Pasti berjalan baik tanpa aku,”
Kamu ini bagaimana? Kami ini tidak akan pernah sempurna jika salah satu dari kita itu tidak hadir. Termasuk kamu! Sekarang bagaimana keadaanmu?
“Baik-baik saja, mungkin besok aku bisa pulang.”
“Baiklah nanti kami akan mengunjungi mu! Jaga dirimu baik-baik.”
Seseorang mengetok pintu lagi. “Suki, kau tau scrap book ku tida, Suki, Suki!!”
“Hei kamu mau apa lagi ke sini? Kau pasti ingin mencari perhatianku kan karena aku Super Junior Donghae! Iya kan!!!” bentak Donghae.
“Siapa yang mencarimu? Aku ingin bertemu Suki, barangkali ia tahu scrap book ku! Lagian kenapa kamu di kamar Suki? Kau pasti ingin menculiknya kan?”
“Aigo!” desahnya. “Ada juga gadis gila seperti kau!”
“Nah, itu!!” Kato pun masuk ke kamar Donghae. Ia menggambil buku biru yang tadi tertinggal di sebuah meja kecil. Kato pun meninggalkan kamar Donghae.
***
“Hey Hyung, tak kusangka kau memiliki dua kepribadian!” cetus Kyuhyun.
Seluruh member Super Junior mengunjungi Donghae malam itu. Dan mereka sangat cemas.
“Gaem, apa maksudmu?” tanya Donghae kepada Kyuhyun.
“Oppa, aku sendiri tak tau seberapa besar aku sayang kepadamu. Namun yang jelas, setiap aku menontonmu di TV, aku bagaikan mentega di atas perapian. Oppa, aku ingin kamu selalu di otakku. Aku gak mau ingatan tentang kamu, berakhir begitu saja!! Oppa saranghae…” Kyuhyun membaca tulisan di selembar foto Donghae.
“Coba sini lihat!” Donghae merebutnya. “Ini bukan tulisanku! Pasti seorang fansku, tulisannya begitu rapi. Seperti tulisan wanita. Hey Gaem!! Lagian aku bukan orang yang memiliki kepribadian ganda!!!”
Member Super Junior harus segera pulang karena sebentar lagi mereka harus mengisi sebuah acara TV. Donghae pun menemui ganosa sambil membawa fotonya itu.
Ajumma, apa tadi ada orang ke kamarku? Mungkin saat aku tertidur?”
“Kan ada member Super Junior, teman-temanmu itu!”
“Aniaa… Sebelum itu!!”
“Sebelumnya kan hanya Kato dan aku!”
Ajumma?  Ajumma Lee fans saya ya? Ini ketinggalan,” Donghae menyerahkan fotonya. “Ajumma kan sudah tua, jangan panggil aku oppa dong! Aku kan masih dua puluh lima tahun!”
“Anak itu pasti menjatuhkannya lagi!”
“Ha? Siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan Kato! Dia itu fans mu!”
“Tapi…”
Ganosa itu pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Kato dan semua hal yang tertulis di foto Donghae itu.
“Dia sudah lebih dari setahun dirawat di sini, kondisinya naik turun. Maka dari itu keluarganya menitipkannya di sini. Sampai-sampai dia itu sudah aku anggap seperti anak sendiri.”
“Memangnya Kato sakit apa?”
Si Perawat menarik nafas sejenak. “Alzheimer. Dia akan lupa apa yang dia lakukan sekarang. Bahkan bisa-bisa dia akan lupa pada dirinya sendiri. Scrap book itu berisi semua hal yang ia ingin ingat.”
“Kasihan juga ya! Lalu Suki itu siapa?”
“Suki itu penderita leukemia. Dia juga lama di sini, tapi beberapa minggu yang lalu dia mendapat donor sumsum tulang belakang. Mereka berdua sangat akur. Suki itu seperti memorinya Kato. Jadi mereka itu selalu bersama.”
“Kya~~ Donghae Oppa!! Benarkah itu Donghae?” seseorang tiba-tiba histeris.
“Suki?” panggil Ajumma.
“Ajumma, ini benarn Donghae? Kato mana? Kato pasti senang sekali!!! Aku panggil Kato dulu ya!”
“Suki, titip ini!” Perawat itu menyerahkan foto Donghae.
Ajumma, saya masuk ke kamar ya! Kalau Kato mau menemui saya, di kamar saja!” ujar Donghae
***
“Ya ampun Suki!! Aku kangen kamu!” Kato memeluk Suki.
Suki menyerahkan foto Donghae. “Kato ini, foto namja kamu jatuh di depan kamar!”
“Wah, gomawo kamu temukannya. Kalo sampai hilang, bisa sedih tujuh hari tujuh malam!”
Aku ada kejutan besar buat kamu!” bisik Suki. “Tapi jangan sampai pingsan  kalo tau kejutannya!”
“Shiro! Aku mau terapi dulu! Biar aku bisa ingat terus sama kamu dan sama Donghae. Supaya pas nanti aku ketemu sama dia, aku inget buat foto-foto sama dia!”
“Gak perlu!” Suki pun menarik tangan Kato.
“Ajumma, mana orangnya?” tanya Suki ketika di ruang jaga perawat.
“Katanya langsung aja ke kamar kamu dulu, Suki!”
“Ajumma, Suki-ah! Kalian menyiapkan? Apa hari ini aku ulang tahun? Kenapa aku lupa lagi ya?” Kato semakin bingung sekaligus penasaran.
“Ulang tahun kamu itu masih lama! Tapi aku yakin hari ini adalah hari spesial kamu!”
Mereka pun melewati lorong rumah sakit yang khas dengan warna putihnya. Lampunya sangat terang, sehingga jalannya terlihat jelas meskipun agak sempit.
“Annyeonghaseyo, Oppa? Suki datang! Oh ya, ada Kato juga!”
Donghae pun membukakan pintu. Senyumnya merekah kepada Kato dan Suki. Kato kaget sekali, sesekali ia mengucek matanya karena tidak percaya akan hal ini. Lalu ia memasang kaca matanya lagi.
“Suki, orang ini mirip banget sama Donghae!”
“Hush, ini Donghae beneran!” bisiknya pelan.
Oso oseyo.. Kalian masuk dulu ya! Gak enak kan, berkunjung tapi di luar seperti ini
“Umm… gimana kalo kalian foto dulu! Aku yang foto kalian!” Suki menawarkan.
Donghae pun mengiyakan.
“Kato, Donghae Oppa, kelihatannya aku harus pulang. Aku nggak boleh kecapekan! Kalian ngobrol banyak ya!”
“Suki-ah!!” panggil Kato, tapi Suki sudah keburu pergi dan mengacuhkannya.
“Gimana? Kamu jadi gak ngobrol sama aku? Kalau gak jadi gak pa pa juga sih, tapi aku punya sesuatu special loh!” goda Donghae.
Pipi Kato pun memerah, “Oppa, kuharap ini bukan mimpi.”
***
“Suki, mungkin aku harus memberitahukan ini kepadamu,” Ajumma Lee menunduk sebentar.
“Kenapa ajumma? Apa ini berkaitan dengan Kato?” tanya Suki. Tadi ia hanya berbohong kalau ia mau pulang, tapi ia di ruang jaga perawat, ngobrol dengan Ajumma Lee, seorang ganosa senior di Rumah Sakit itu.
“Kato keadaannya kian menurun. Aku khawatir terhadapnya. Sudah beberapa minggu ini orang tuanya tidak menjenguknya. Maka dari itu aku juga tidak memberikan hasil catatan perkembangan terapinya. Aku takut hal ini membuatnya semakin parah.”
Mwo? Benarkah Ajumma? Tapi kelihatannya ia baik-baik saja. Lalu bagaimana ini?”
Bahkan hasil yang kemarin saja membuatku shock! Saraf otaknya ada yang mengalami kerusakan. Kalaupun ia sembuh nanti, pasti dia akan keilangan memorinya. Aish… Bahkan keluarganya seperti membuangnya.”
“Ajumma, kalau aku boleh tahu, Kenapa Donghae dimasukan ke ruang khusus? Dia tidak sakit parah kan?”
“Anak itu tak beda jauh dengan Kato. Dia itu punya penyakit jantung bawaan. Jadi, jantungnya itu tidak bisa berkembang seiring pertumbuhannya, tapi katanya dia pernah operasi cangkok tapi hal itu tak menjamin kesehatannya. Seharusnya ia harus menjalani cangkok jantung lagi.”
“Lalu kenapa tidak cangkok lagi? Masalah biaya kan tidak menjadi penghalang kan? Secara dia artis internasional! Dan uang pun tang berhenti mengalir di kantongnya, apalagi saat dia naik daun seprti ini.”
“Benar dia sangat kaya, tapi jika belum ada donor yang cocok mau bagaimana lagi? Semoga saja dia bisa bertahan sampai donor itu datang.”

bersambung....

Jumat, 25 Februari 2011

I'm an Ever Lasting Friend

Cuz I can't stop thinking 'bout you Supeyo Juni-ieyo~~

Aku juga lupa dari mana aku memulai. Dari kapan aku menyukai kalian, bagaimana aku mencintai kalian. Kalian... menembus batas jantungku, membuatku semakin layu di hadapanmu. Melting, melting, melting!! Hanya itu yang kulakukan setiap menatap kalian, meski layar kaca membatasi kita. Aku tak tau bagai mana kelakuanku setiap kamu... masuki alam bawah sadarku.


Kalian melambungkan aku, tapi kenyataan membuat ku jatuh. Di dunia ku sendiri, aku merasa kalian hanya sejauh Indonesia - Korea Utara. Hanya mencapai Singapore, begitu banyak tembok menghalang. Mungkin bagi kalian, aku hanyalah ELF biasa. Mungkin tanpa aku, kalian masih bisa mengadakan Show lainnya. Ketahuilah!!! You're my life, You're my breathe, You're my heart beating, YOU'RE MY EVERYTHING to me! Apapun... baik buruknya kalian, aku mengerti. Meskipun aku memujamu bagai dewa, tapi aku sadar kalau kalian tetaplah manusia. Sama seperti aku!


Meski setiap ELF berkat "Oppa, saranghae!!" bolehkah aku berkata sesuatu? OPPA JANGAN PERNAH PERGI!!! sudah aku bilang, kalian adalah nafasku... apa jadinya kalau kalian meninggalkan aku? meninggalkan kami yang selama ini selalu menjadi satu. Oppa, kalian begitu indah.


Selalu tak sadar kalau aku menangis ketika satu per satu dari kalian meninggalkan satu nama, yaitu Super Junior. Ki Bum yang cuti... Kangin wamil... dan Han Kyung yang sekarang benar-benar meninggalkan Super Junior. Aku hanya ingin kalian seperti MV terindah kalian: It's You. Begitu indah ketika tiga belas orang menjadi satu. Menghibur kami, membuat mood kami naik.

I say S
I say S-U
S-U-J
S-U-J-U
every body love SUJU
every body SUJU
every body love SUJU
Oppa SUJU saranghae 

by: Kato

Oppa... aku ingin setelah album ke lima, masih ada album ke enam, ke tujuh, dan selanjutnya. Sampai habis massa dunia, karir kalian tidak akan pernah berakhir.

Selasa, 01 Februari 2011

[CERPEN] A Piece of Happiness


“Selamat pagi, Ayah?” sapa Bian kepada ayahnya. Orang tua tunggalnya kini. Ibunya sudah beberapa tahun lalu meninggal. Sekarang tinggal ia sendiri dengan ayahnya di rumah sederhana mereka. Sebenarnya Bian masih memiliki kakak, tapi mereka sudah berumah tangga dan tinggal jauh darinya.
“Kamu sudah mau berangkat ya?” Tanya Ayah sambil menyuapkan roti ke mulutnya.
“Iya, Yah! Aku berangkat dulu ya!” Bian pun mencium tangan ayahnya.
“Jangan pulang terlambat ya!”
“Beres Yah!”
Bianca, seorang siswi SMA. Anak terakhir dari lima bersaudara. Ia adalah anak satu-satunya yang belum mapan di antara saudaranya. Hari-harinya disibukkan oleh rutinitasnya sebagai murid dan meladeni ayahnya yang sudah mulai senja. Ia sangat sayang kepada ayahnya, orang yang paling ia banggakan di dunia ini. Tak jarang ayahnya itu sakit, mungkin karena usia yang tak muda lagi. Atau permintaan yang merepotkan. Sama saja seperti ia meladeni ibu-ibu hamil yang sedang mengidam. Tapi tetap ia lakukan demi cinta kepada ayah sesuai dengan kemampuannya.
“Bian,” panggil seseorang. “Karya ilmiahmu sudah selesai?”
“Belum, mungkin nanti aku mau mengerjakannya di persewaan komputer.”
“What? Hari gini nyewa? Kan udah ada leptop, Bian! Kalo gak ada paling nggak kamu punya komputer, kan?”
“Aku udah menabung untuk itu.”
Setiap bulan ia mendapat jatah uang makan dan uang sekolah dari kakak-kakaknya. Dan setiap bulan juga ia menyisihkan sebagian jatahnya itu untuk membeli seperangkat komputer untuk keperluan sekolahnya. Tak jarang ia kerepotan dengan tugas sekolah yang terus berhubungan dengan komputer. Meski tabungannya belum cukup, tapi ia tidak pernah patah semangat untuk menabung.
“Bian, besok kita patungan buat tugas melukis. Jangan lupa ya bawa uang patungannya!”
“Memang kita patungan berapa?” tanya Bian.
Temannya itu berpikir sebentar, “Totalnya seratus ribu, Yan! Berhubung kelompok kita empat orang, kita patungannya dua puluh lima ribuan.”
Mata Bian sedikit melotot kaget, “Dua puluh lima ribu? Ternyata mahal juga ya harga kanvas, kuas, palet, dan cat. Gak bisa kurang gitu?”
“Kemarin aku survey di tokonya sih rata-rata segitu. Tapi kalau ada lebihnya di kembaliin kok!”
Salah satu penghambat impiannya membeli komputer yaitu tugas, keperluan, dan hal lain yang berhubungan dengan uang. Tak jarang ia harus mengambil uang simpananannya untuk memenuhi hal-hal itu.
Hari sangat terik sekali. Bian berjalan di antara debu dan polusi. Ya, dia berjalan dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Padahal jarak antara rumah dan sekolahnya cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Itu semua ia lakukan untuk menghemat uang transportasi. Keinginan yang mendorongnya, yaitu membeli komputer.
“Ayah, aku pulang!!” Sapanya dari luar.
Ayahnya muncul dari balik pintu kamar, “Bian, kamu sudah pulang ya? Cepetan ganti baju, cuci tangan dan kaki, lalu makan siang.”
“Beres Yah!”
Bian pun masuk kamar untuk ganti pakaian, lalu dia ke belakang untuk mencuci tangan dan kaki. Terdengar seperti kebiasaan anak-anak. Tapi bagaimanapun ia senang melakukannya karena ucapan ayah tidak pernah membuatnya rugi.
“Kamu makan yang banyak biar tidak sakit.” Ujar Ayah.
“Ayah juga dong, biar tetep sehat dan kuat seperti muda kembali.”
Wajah ayah tiba-tiba kusut, “Tadi malam Ayah mimpi tentang Ibu kamu, Yan!”
“Mungkin karena Ayah terlalu kangen sama Ibu, makanya sampai mimpi kayak gitu.” Hibur Bian.
“Iya, Yan. Gak kerasa sudah sepuluh tahun Ibu kamu pergi.”
Tak pernah ia melihat Ayah serapuh ini. Meskipun sudah tua dan sakit-sakitan, tapi Ayah tidak pernah terlihat begitu rapuh dan tanpa semangat. Bian sangat tahu, Ayah adalah orang yang paling pintar berakting. Ayah sangat pintar menyembunyikan perasaannya. Tapi Ayah yang ia lihat tidak seperti Ayah yang biasanya.
“Bian.” Panggil Ayah.
“Iya Yah? Ada apa?”
“Ayah pingin banget beli iPad, tapi bingung dapat uang dari mana.”
“iPad, Yah? Barang itu kan mahal banget. Mana cukup uang kita beli barang seperti itu?”
“Hubungi kakakmu, mungkin mereka bisa membantu.”
“Memangnya untuk apa sih, Yah? Barang itu kan gak penting-penting amat.”
“Pokoknya Ayah pengen iPad, secepatnya.” Ayah tetap ngotot dengan keinginannya. Beliau pun meninggalkan Bian.
Seaneh-anehnya Ayah, ia  tak pernah sengotot ini. Biasanya hanya hal makanan atau acara televisi. Keinginan Ayah kali ini sangat tidak mungkin. Untuk membeli komputer saja tidak bisa, apalagi iPad yang terkenal dengan harganya yang selangit. Itu sangat jelas tidak mungkin untuk di wujudkan.
Keesokan hari, ketika Bian pamit ke sekolah, Ayah mengabaikannya. Ayah hanya berkata, kalau tidak dibelikan barang itu, maka Ayah tidak akan pernah berbicara dengannya lagi. Hal ini jelas membuat Bian sangat galau. Bian mencoba menghubungi kakak-kakaknya untuk meminta bantuan.
“Halo, Kak Tika? Ini Bian, Kak!” sapanya lewat telepon.
“Ada apa Yan? Apa ada masalah di rumah?”
“Begini, sudah beberapa hari ini Ayah tidak mau bicara denganku. Bahkan makannya pun jadi tidak teratur.”
“Memangnya kamu buat salah apa? Bukannya kamu itu anak kesayangan Ayah?”
“Ayah marah padaku karena aku melarangnya membeli iPad. Kakak tahu sendiri, uang kiriman Kak Tika dan kakak yang lain hanya cukup untuk makan dan sekolahku. Apa tidak sebaiknya kalau Kak Tika dan yang lain patungan membeli iPad.”
“Apa? iPad?” suaranya terdengar seperti orang yang kaget. “Barang itu kan tidak begitu penting untuk orang seperti Ayah? Lagipula aku sudah tidak punya uang karena mendaftarkan anak-anakku masuk sekolah.”
“Begitu ya, Kak? Ya sudah aku minta tolong ke yang lain saja.”
Ini baru langkah pertama baginya. Ia tidak boleh menyerah. Ia masih punya empat kakak lagi. Mungkin saat inilah yang tepat untuk membuktikan bahwa ia bukan hanya anak bungsu yang manja dan tidak melakukan hal yang lebih. Ia bisa sedikit berusaha. Ya, demi ayah!
***
Matahari yang bersinar cerah sangat kontras dengan muka Bian yang murung. Kemarin ia sudah menghubungi kakak-kakaknya, tapi tak ada satu pun yang bisa membantu dirinya sekarang. Kak Tika, kakak sulungnya, sedang tidak punya uang setelah mendaftarkan anak-anaknya mesuk sekolah. Kak Reza sedang membiayai istrinya yang terjangkit demam berdarah. Kak Rangga sedang tugas di luar negeri, sehingga sulit dihubungi. Dan yang terakhir Kak Mutia juga tidak punya uang karena baru saya membangun rumah. Harapan satu-satunya yaitu dirinya sendiri, tapi hal apa yang bisa ia lakukan. Bahkan ia belum bekerja.
“Fir, kamu punya sodara gak yang butuh kerja? Ayahku lagi butuh pelayan di restorannya.”
“Wah, gak ada tuh kayaknya.”
Bian mendengar percakapan temannya itu dan terlintas ide di otaknya. Bian pun meghampiri temannya itu.
“Vino, ayah kamu butuh pelayan ya? Kebetulan aku lagi butuh kerja.” Cetus Bian tiba-tiba.
“Serius kamu, Yan? Ini kerjanya malem loh!” Vino sedikit ragu.
“Yang penting bayarannya dong!” rayu Bian.
“Bayarannya gede juga buat gaji seorang pelayan. Sehari bisa sampe tiga puluh ribuan. Kalo lembur dapet ekstra juga. Belum lagi kalo kinerja kamu bagus, dapet bonus juga.“ terang Vino.
Bel pulang sekolah berdering. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Bian pun pulang juga. Sambil berjalan, ia memikirkan matang-matang apa yang akan dia lakukan. Apa resikonya jika dia kerja malam. Lagi pula restoran ayahnya Vino tidak jauh dari rumahnya.
“Ayah, aku pulang.”
Ayah tidak menjawab, beliau sedang menatap bingkai foto. Foto ibu Bian. Bian tidak bisa berkata apa-apa. Tapi ia ingin sekali menceritakan kalau sebentar lagi Ayah akan mendapat iPad itu. Atau biarkan hal ini menjadi kejutan.
Siang itu juga, ia membuat surat lamaran kerja dan segera membawanya ke restoran. Ternyata Vino telah menunggu di depan restoran. Dia memperkenalkan ayahnya kepada Bian. Setelah itu Bian langsung menjalani tes wawancara.
***
“Ayah, aku bawa sesuatu buat Ayah!!” seru Bian ketika baru sampai.
“Apa Bian?”
“TARAAA!! iPad idaman ayah setahun yang lalu.”
Ayah meneteskan air mata, “Dari mana kamu dapat barang ini?”
“Kalau aku keluar tiap malem itu kan kerja buat beliin iPad buat Ayah.”
“Kamu nggak macem-macem kan?” Ayah masih tidak percaya.
“Ya enggak dong Yah! iPad ini seratus persen dari rejeki yang halal.”
“Terima kasih ya, Nak!”
Iya Yah! Aku juga seneng, kerja keras aku selama ini bisa membuahkan hasil. Kalo ayah seneng, aku juga seneng, kok! Aku rela gak punya komputer, nggak makan siang, dan jual hapeku, demi kebahagiaan Ayah. Paling tidak aku cukup bangga bisa memberikan sepotong kebahagiaan untuk Ayah. Untuk urusan komputer, kan masih ada penyewaan! Apa kata orang, yang penting Ayah bahagia.
Bian pun meninggalkan ayahnya bersama ‘teman baru’ ayahnya itu. Sekarang waktunya ia belajar, besok kan masih masuk. Hari ini benar-benar menyenangkan. Ayah bahagia mendapatkan iPad, Bian pun lega Ayahnya tida cuek lagi kepadanya.
“Bian, belajar yang rajin ya! Jadilah orang sukses. Supaya saat sukses nanti bisa membuatkan Ayah dan Ibu mu sebuah istana.” Teriak Ayah dari ruang tamu.
“Ayah ini, masih saja memikirkan Ibu. Apakah Ayah sangat rindu kepadanya? Besok kita ziarah saja ke makamnya.”
“Begitu juga boleh!”
Malam semakin larut, dan bintang-bintang pun masih tergantung di langit mendampingi bulan. Mereka membawa seluruh mimpi ke surga. Menembus awan dan menerjang halilintar. Sampai langit ke tujuh dicapai, angan-angan tak sebatas mimpi. Merajut satu per satu harapan, untuk mendapatkan kepastian.
Ayam pun berkokok bertanda akhirnya kegelapan. Matahari tersenyum riang, menyapa setiap orang. Awan berarak membentuk barisan. Dedaunan melambai-lambai. Rumput-rumput masih basah karena embun, tapi Bian sudah berangkat menuju sekolah.
“Vino, ucapkan terima kasih ke ayahmu, ya!” sambut Bian ketika Vino baru datang.
“Iya gak apa. Ayahku kan puas sekali dengan kinerja kamu yang luar biasa itu.” Puji Vino.
Bian sedikit tersipu, “Ya, itu semua kan demi membelikan iPad untuk Ayah.”
“Jadi, kamu…” Vino kaget sekali. “Setahun ini kamu mati-matian kerja hanya untuk membelikan iPad untuk ayahmu? Aku bener-bener salut sama kamu, Yan!”
“Kan gak ada hal yang lebih berharga dari keluarga, apalagi orang tua kita.”
“Tapi sebenarnya kamu menyadarkan aku yang manja ini. Selama ini aku cuma bisa minta dan minta kepada orang tuaku, tanpa pernah berpikir memberikan sesuatu yang terbaik yang bisa aku beri. Nanti pulang sekolah aku anterin ya!”
“Kamu mau nganterin aku pulang? Buat apa? Mau pinjem catatan?”
“Enggak, aku cuma pengen silahturahmi ke seorang ayah yang beruntung.”
Tak lama kemudian, pelajaran pertama di mulai. Pak Guru terlihat sangat riang. Wajahnya yang biasa garang, hari ini terlihat sumringah.
“Selamat pagi anak-anak, saya membawa kabar gembira untuk kalian khususnya kepada saudara Viciano yang berhasil memenangkan juara satu dalam Festival Robot Nasional. Selamat untuk saudara Viciano.”
Tepuk tangan langsung menggema dari teman-teman sekelasnya dan sesekali godaan terlontar, “Jangan lupa traktirannya ya, No!’
“Ternyata kamu bisa buat orang tua mu bangga, No!” bisik Bian yang dibalas dengan acungan jempol Vino.
Setiap detik hal-hal menarik terjadi di sekolah. Hal-hal yang selalu dikenang sampai tua. Persahabatan, cita-cita, cinta monyet, semua itu hanya ditemukan di sekolah. Tak terasa siang menjemput, kali ini agak mendung. Vino yang tadi berjanji mengantarkan Bian pulang pun bergegas mencari Bian. Ternyata Bian masih di dalam kelas.
“Vino, akhirnya kamu dateng. Ayo kita buruan pulang, perasaanku gak enak banget!” Ajak Bian tergesa-gesa.
“Ya udah ayo! Ini juga kelihatan mau hujan. Memang kenapa sampai perasaanmu gak enak?”
Bian segera menyeret Vino, “Kalung yang dari Ibuku putus.”
Hujan pun mulai turun. Vino bergegas memacu motornya di tengah deras hujan. Bian hanya diam dengan tangan gemetar memegang kalung yang putus.
Roti dan teh Ayah sepertinya belum dijamah sama sekali. Di dekatnya, Ayah tertunduk merangkul iPad, si teman barunya itu.
“Ayah, kok tidur di teras sih?” Bian mencoba membangunkan Ayahnya, tapi Ayahnya tetap diam.
“Yan, tangan ayah kamu kok dingin ya? Coba aku periksa.” Vino menawarkan.
“No, tolong telponin ambulan ya! Aku takut terjadi sesuatu sama Ayah.”
***
Pintu UGD terbuka. Seorang berjubah putih muncul dari baliknya. Wajahnya kusut dan pucat. Kumis tebaln seakan menahannya untuk berkata-kata. Bagaimana pun, hal ini harus di kabarkan.
“Maaf mbak, ayah anda sudah tenang di alam sana. Semoga mbak bisa ikhlas menghadapinya.” Ucap Dokter.
Kaki Bian gemetar dan lemas, ia terduduk di lantai sambil memeluk iPad ayahnya. Ternyata Ayah hanya ingin memajang foto ibu di layar iPad. Permintaan yang sangat disepelekan kebanyakan anaknya.
Bian selama setahun ini giat bekerja hanya untuk menyenangkan hati Ayahnya, yang keinginannya merupakan firasat. Keinginan Ayah benar-benar sudah seluruhnya tercapai, yaitu bertemu dengan ibu di indahnya surga.
Tuhan, terima kasih Kau sudah memberikanku kesempatan untuk memberikan sedikit kebahagiaan untuk Ayah.
Berikanlah kebahagiaan bagi orang lain, sekecil apapun itu. Karena sepotong kebahagiaan untuk mereka, sepenuhnya kebahagiaan kita.