“Selamat pagi, Ayah?” sapa Bian kepada ayahnya. Orang tua tunggalnya kini. Ibunya sudah beberapa tahun lalu meninggal. Sekarang tinggal ia sendiri dengan ayahnya di rumah sederhana mereka. Sebenarnya Bian masih memiliki kakak, tapi mereka sudah berumah tangga dan tinggal jauh darinya.
“Kamu sudah mau berangkat ya?” Tanya Ayah sambil menyuapkan roti ke mulutnya.
“Iya, Yah! Aku berangkat dulu ya!” Bian pun mencium tangan ayahnya.
“Jangan pulang terlambat ya!”
“Beres Yah!”
Bianca, seorang siswi SMA. Anak terakhir dari lima bersaudara. Ia adalah anak satu-satunya yang belum mapan di antara saudaranya. Hari-harinya disibukkan oleh rutinitasnya sebagai murid dan meladeni ayahnya yang sudah mulai senja. Ia sangat sayang kepada ayahnya, orang yang paling ia banggakan di dunia ini. Tak jarang ayahnya itu sakit, mungkin karena usia yang tak muda lagi. Atau permintaan yang merepotkan. Sama saja seperti ia meladeni ibu-ibu hamil yang sedang mengidam. Tapi tetap ia lakukan demi cinta kepada ayah sesuai dengan kemampuannya.
“Bian,” panggil seseorang. “Karya ilmiahmu sudah selesai?”
“Belum, mungkin nanti aku mau mengerjakannya di persewaan komputer.”
“What? Hari gini nyewa? Kan udah ada leptop, Bian! Kalo gak ada paling nggak kamu punya komputer, kan?”
“Aku udah menabung untuk itu.”
Setiap bulan ia mendapat jatah uang makan dan uang sekolah dari kakak-kakaknya. Dan setiap bulan juga ia menyisihkan sebagian jatahnya itu untuk membeli seperangkat komputer untuk keperluan sekolahnya. Tak jarang ia kerepotan dengan tugas sekolah yang terus berhubungan dengan komputer. Meski tabungannya belum cukup, tapi ia tidak pernah patah semangat untuk menabung.
“Bian, besok kita patungan buat tugas melukis. Jangan lupa ya bawa uang patungannya!”
“Memang kita patungan berapa?” tanya Bian.
Temannya itu berpikir sebentar, “Totalnya seratus ribu, Yan! Berhubung kelompok kita empat orang, kita patungannya dua puluh lima ribuan.”
Mata Bian sedikit melotot kaget, “Dua puluh lima ribu? Ternyata mahal juga ya harga kanvas, kuas, palet, dan cat. Gak bisa kurang gitu?”
“Kemarin aku survey di tokonya sih rata-rata segitu. Tapi kalau ada lebihnya di kembaliin kok!”
Salah satu penghambat impiannya membeli komputer yaitu tugas, keperluan, dan hal lain yang berhubungan dengan uang. Tak jarang ia harus mengambil uang simpananannya untuk memenuhi hal-hal itu.
Hari sangat terik sekali. Bian berjalan di antara debu dan polusi. Ya, dia berjalan dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Padahal jarak antara rumah dan sekolahnya cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Itu semua ia lakukan untuk menghemat uang transportasi. Keinginan yang mendorongnya, yaitu membeli komputer.
“Ayah, aku pulang!!” Sapanya dari luar.
Ayahnya muncul dari balik pintu kamar, “Bian, kamu sudah pulang ya? Cepetan ganti baju, cuci tangan dan kaki, lalu makan siang.”
“Beres Yah!”
Bian pun masuk kamar untuk ganti pakaian, lalu dia ke belakang untuk mencuci tangan dan kaki. Terdengar seperti kebiasaan anak-anak. Tapi bagaimanapun ia senang melakukannya karena ucapan ayah tidak pernah membuatnya rugi.
“Kamu makan yang banyak biar tidak sakit.” Ujar Ayah.
“Ayah juga dong, biar tetep sehat dan kuat seperti muda kembali.”
Wajah ayah tiba-tiba kusut, “Tadi malam Ayah mimpi tentang Ibu kamu, Yan!”
“Mungkin karena Ayah terlalu kangen sama Ibu, makanya sampai mimpi kayak gitu.” Hibur Bian.
“Iya, Yan. Gak kerasa sudah sepuluh tahun Ibu kamu pergi.”
Tak pernah ia melihat Ayah serapuh ini. Meskipun sudah tua dan sakit-sakitan, tapi Ayah tidak pernah terlihat begitu rapuh dan tanpa semangat. Bian sangat tahu, Ayah adalah orang yang paling pintar berakting. Ayah sangat pintar menyembunyikan perasaannya. Tapi Ayah yang ia lihat tidak seperti Ayah yang biasanya.
“Bian.” Panggil Ayah.
“Iya Yah? Ada apa?”
“Ayah pingin banget beli iPad, tapi bingung dapat uang dari mana.”
“iPad, Yah? Barang itu kan mahal banget. Mana cukup uang kita beli barang seperti itu?”
“Hubungi kakakmu, mungkin mereka bisa membantu.”
“Memangnya untuk apa sih, Yah? Barang itu kan gak penting-penting amat.”
“Pokoknya Ayah pengen iPad, secepatnya.” Ayah tetap ngotot dengan keinginannya. Beliau pun meninggalkan Bian.
Seaneh-anehnya Ayah, ia tak pernah sengotot ini. Biasanya hanya hal makanan atau acara televisi. Keinginan Ayah kali ini sangat tidak mungkin. Untuk membeli komputer saja tidak bisa, apalagi iPad yang terkenal dengan harganya yang selangit. Itu sangat jelas tidak mungkin untuk di wujudkan.
Keesokan hari, ketika Bian pamit ke sekolah, Ayah mengabaikannya. Ayah hanya berkata, kalau tidak dibelikan barang itu, maka Ayah tidak akan pernah berbicara dengannya lagi. Hal ini jelas membuat Bian sangat galau. Bian mencoba menghubungi kakak-kakaknya untuk meminta bantuan.
“Halo, Kak Tika? Ini Bian, Kak!” sapanya lewat telepon.
“Ada apa Yan? Apa ada masalah di rumah?”
“Begini, sudah beberapa hari ini Ayah tidak mau bicara denganku. Bahkan makannya pun jadi tidak teratur.”
“Memangnya kamu buat salah apa? Bukannya kamu itu anak kesayangan Ayah?”
“Ayah marah padaku karena aku melarangnya membeli iPad. Kakak tahu sendiri, uang kiriman Kak Tika dan kakak yang lain hanya cukup untuk makan dan sekolahku. Apa tidak sebaiknya kalau Kak Tika dan yang lain patungan membeli iPad.”
“Apa? iPad?” suaranya terdengar seperti orang yang kaget. “Barang itu kan tidak begitu penting untuk orang seperti Ayah? Lagipula aku sudah tidak punya uang karena mendaftarkan anak-anakku masuk sekolah.”
“Begitu ya, Kak? Ya sudah aku minta tolong ke yang lain saja.”
Ini baru langkah pertama baginya. Ia tidak boleh menyerah. Ia masih punya empat kakak lagi. Mungkin saat inilah yang tepat untuk membuktikan bahwa ia bukan hanya anak bungsu yang manja dan tidak melakukan hal yang lebih. Ia bisa sedikit berusaha. Ya, demi ayah!
***
Matahari yang bersinar cerah sangat kontras dengan muka Bian yang murung. Kemarin ia sudah menghubungi kakak-kakaknya, tapi tak ada satu pun yang bisa membantu dirinya sekarang. Kak Tika, kakak sulungnya, sedang tidak punya uang setelah mendaftarkan anak-anaknya mesuk sekolah. Kak Reza sedang membiayai istrinya yang terjangkit demam berdarah. Kak Rangga sedang tugas di luar negeri, sehingga sulit dihubungi. Dan yang terakhir Kak Mutia juga tidak punya uang karena baru saya membangun rumah. Harapan satu-satunya yaitu dirinya sendiri, tapi hal apa yang bisa ia lakukan. Bahkan ia belum bekerja.
“Fir, kamu punya sodara gak yang butuh kerja? Ayahku lagi butuh pelayan di restorannya.”
“Wah, gak ada tuh kayaknya.”
Bian mendengar percakapan temannya itu dan terlintas ide di otaknya. Bian pun meghampiri temannya itu.
“Vino, ayah kamu butuh pelayan ya? Kebetulan aku lagi butuh kerja.” Cetus Bian tiba-tiba.
“Serius kamu, Yan? Ini kerjanya malem loh!” Vino sedikit ragu.
“Yang penting bayarannya dong!” rayu Bian.
“Bayarannya gede juga buat gaji seorang pelayan. Sehari bisa sampe tiga puluh ribuan. Kalo lembur dapet ekstra juga. Belum lagi kalo kinerja kamu bagus, dapet bonus juga.“ terang Vino.
Bel pulang sekolah berdering. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Bian pun pulang juga. Sambil berjalan, ia memikirkan matang-matang apa yang akan dia lakukan. Apa resikonya jika dia kerja malam. Lagi pula restoran ayahnya Vino tidak jauh dari rumahnya.
“Ayah, aku pulang.”
Ayah tidak menjawab, beliau sedang menatap bingkai foto. Foto ibu Bian. Bian tidak bisa berkata apa-apa. Tapi ia ingin sekali menceritakan kalau sebentar lagi Ayah akan mendapat iPad itu. Atau biarkan hal ini menjadi kejutan.
Siang itu juga, ia membuat surat lamaran kerja dan segera membawanya ke restoran. Ternyata Vino telah menunggu di depan restoran. Dia memperkenalkan ayahnya kepada Bian. Setelah itu Bian langsung menjalani tes wawancara.
***
“Ayah, aku bawa sesuatu buat Ayah!!” seru Bian ketika baru sampai.
“Apa Bian?”
“TARAAA!! iPad idaman ayah setahun yang lalu.”
Ayah meneteskan air mata, “Dari mana kamu dapat barang ini?”
“Kalau aku keluar tiap malem itu kan kerja buat beliin iPad buat Ayah.”
“Kamu nggak macem-macem kan?” Ayah masih tidak percaya.
“Ya enggak dong Yah! iPad ini seratus persen dari rejeki yang halal.”
“Terima kasih ya, Nak!”
Iya Yah! Aku juga seneng, kerja keras aku selama ini bisa membuahkan hasil. Kalo ayah seneng, aku juga seneng, kok! Aku rela gak punya komputer, nggak makan siang, dan jual hapeku, demi kebahagiaan Ayah. Paling tidak aku cukup bangga bisa memberikan sepotong kebahagiaan untuk Ayah. Untuk urusan komputer, kan masih ada penyewaan! Apa kata orang, yang penting Ayah bahagia.
Bian pun meninggalkan ayahnya bersama ‘teman baru’ ayahnya itu. Sekarang waktunya ia belajar, besok kan masih masuk. Hari ini benar-benar menyenangkan. Ayah bahagia mendapatkan iPad, Bian pun lega Ayahnya tida cuek lagi kepadanya.
“Bian, belajar yang rajin ya! Jadilah orang sukses. Supaya saat sukses nanti bisa membuatkan Ayah dan Ibu mu sebuah istana.” Teriak Ayah dari ruang tamu.
“Ayah ini, masih saja memikirkan Ibu. Apakah Ayah sangat rindu kepadanya? Besok kita ziarah saja ke makamnya.”
“Begitu juga boleh!”
Malam semakin larut, dan bintang-bintang pun masih tergantung di langit mendampingi bulan. Mereka membawa seluruh mimpi ke surga. Menembus awan dan menerjang halilintar. Sampai langit ke tujuh dicapai, angan-angan tak sebatas mimpi. Merajut satu per satu harapan, untuk mendapatkan kepastian.
Ayam pun berkokok bertanda akhirnya kegelapan. Matahari tersenyum riang, menyapa setiap orang. Awan berarak membentuk barisan. Dedaunan melambai-lambai. Rumput-rumput masih basah karena embun, tapi Bian sudah berangkat menuju sekolah.
“Vino, ucapkan terima kasih ke ayahmu, ya!” sambut Bian ketika Vino baru datang.
“Iya gak apa. Ayahku kan puas sekali dengan kinerja kamu yang luar biasa itu.” Puji Vino.
Bian sedikit tersipu, “Ya, itu semua kan demi membelikan iPad untuk Ayah.”
“Jadi, kamu…” Vino kaget sekali. “Setahun ini kamu mati-matian kerja hanya untuk membelikan iPad untuk ayahmu? Aku bener-bener salut sama kamu, Yan!”
“Kan gak ada hal yang lebih berharga dari keluarga, apalagi orang tua kita.”
“Tapi sebenarnya kamu menyadarkan aku yang manja ini. Selama ini aku cuma bisa minta dan minta kepada orang tuaku, tanpa pernah berpikir memberikan sesuatu yang terbaik yang bisa aku beri. Nanti pulang sekolah aku anterin ya!”
“Kamu mau nganterin aku pulang? Buat apa? Mau pinjem catatan?”
“Enggak, aku cuma pengen silahturahmi ke seorang ayah yang beruntung.”
Tak lama kemudian, pelajaran pertama di mulai. Pak Guru terlihat sangat riang. Wajahnya yang biasa garang, hari ini terlihat sumringah.
“Selamat pagi anak-anak, saya membawa kabar gembira untuk kalian khususnya kepada saudara Viciano yang berhasil memenangkan juara satu dalam Festival Robot Nasional. Selamat untuk saudara Viciano.”
Tepuk tangan langsung menggema dari teman-teman sekelasnya dan sesekali godaan terlontar, “Jangan lupa traktirannya ya, No!’
“Ternyata kamu bisa buat orang tua mu bangga, No!” bisik Bian yang dibalas dengan acungan jempol Vino.
Setiap detik hal-hal menarik terjadi di sekolah. Hal-hal yang selalu dikenang sampai tua. Persahabatan, cita-cita, cinta monyet, semua itu hanya ditemukan di sekolah. Tak terasa siang menjemput, kali ini agak mendung. Vino yang tadi berjanji mengantarkan Bian pulang pun bergegas mencari Bian. Ternyata Bian masih di dalam kelas.
“Vino, akhirnya kamu dateng. Ayo kita buruan pulang, perasaanku gak enak banget!” Ajak Bian tergesa-gesa.
“Ya udah ayo! Ini juga kelihatan mau hujan. Memang kenapa sampai perasaanmu gak enak?”
Bian segera menyeret Vino, “Kalung yang dari Ibuku putus.”
Hujan pun mulai turun. Vino bergegas memacu motornya di tengah deras hujan. Bian hanya diam dengan tangan gemetar memegang kalung yang putus.
Roti dan teh Ayah sepertinya belum dijamah sama sekali. Di dekatnya, Ayah tertunduk merangkul iPad, si teman barunya itu.
“Ayah, kok tidur di teras sih?” Bian mencoba membangunkan Ayahnya, tapi Ayahnya tetap diam.
“Yan, tangan ayah kamu kok dingin ya? Coba aku periksa.” Vino menawarkan.
“No, tolong telponin ambulan ya! Aku takut terjadi sesuatu sama Ayah.”
***
Pintu UGD terbuka. Seorang berjubah putih muncul dari baliknya. Wajahnya kusut dan pucat. Kumis tebaln seakan menahannya untuk berkata-kata. Bagaimana pun, hal ini harus di kabarkan.
“Maaf mbak, ayah anda sudah tenang di alam sana. Semoga mbak bisa ikhlas menghadapinya.” Ucap Dokter.
Kaki Bian gemetar dan lemas, ia terduduk di lantai sambil memeluk iPad ayahnya. Ternyata Ayah hanya ingin memajang foto ibu di layar iPad. Permintaan yang sangat disepelekan kebanyakan anaknya.
Bian selama setahun ini giat bekerja hanya untuk menyenangkan hati Ayahnya, yang keinginannya merupakan firasat. Keinginan Ayah benar-benar sudah seluruhnya tercapai, yaitu bertemu dengan ibu di indahnya surga.
Tuhan, terima kasih Kau sudah memberikanku kesempatan untuk memberikan sedikit kebahagiaan untuk Ayah.
Berikanlah kebahagiaan bagi orang lain, sekecil apapun itu. Karena sepotong kebahagiaan untuk mereka, sepenuhnya kebahagiaan kita.

0 komentar:
Posting Komentar